Gadget Jadul sampai Gadget Gaul

Labels:


Kehidupan sekarang tidak lepas dengan namanya gadget. Gadget seakan menjadi barang nomor satu yang selalu di bawa manusia. Angka pengguna gadget di Indonesia sendiri cukup tinggi, yakni sekitar 67% dari total penduduk di Indonesia, tetapi, jumlah gadget yang beredar malah lebih banyak daripada jumlah penduduk di Indonesia itu sendiri. Jika dirata-ratakan, setiap penduduk di Pulau Jawa masing-masing memiliki 2 smartphone. Fakta ini menyadarkan kita betapa bergantungnya hidup kita pada gadget, terutama smartphone. (sumber : http://www.gadgetgaul.com/ketergantungan-manusia-ponsel-mengkhawatirkan.html)


Tahun demi tahun, gadget mulai berkembang. Perubahan demi perubahan mulai terlihat lebih canggih. Bentuk, komponen, serta fitur-fiturnya pun lebih kompleks. Dalam tulisan ini saya akan membagi 2 jenis gadget menurut zamannya.

#Gadget Jadul

Gadget jadul itulah nama jaman sekarangnya. Kalo dulu sih namanya bukan Gadget Jadul tapi gadget canggih yang punya hanya orang-orang berduit aja. Gadget pada jaman dulu sungguh laris dipasaran. Mulai dari televisi, mobile phone, game player, dsb.


Gadget Inovator

Era modern ini semua serba menjadi lebih mudah, cepat dan canggih. Terbantu dengan namanya gadget. Semua gadget sudah dapat membantu manusia. Manusia yang normal dan manusia yang mempunyai disabilitas pun sudah dapat menikmati kecanggihan gadget.

Berikut adalah gadget yang menurut saya gadget paling inovator. Gadget-gadget ini dapat membantu manusia disabilitas dapat berkomunikasi dengan lancar. Bekerja tanpa peduli dengan ketidakmampuannya.
#1 Smartphone Tunanetra


Seorang peneliti asal India mengembangkan smartphone yang dikhususkan untuk kalangan tuna netra. Dengan smartphone ini, mereka bisa mengirim  pesan pendek, bahkan email. Menurut sang penemu, Sumit Dagar, ponsel pintar ini mengubah semua teks ke dalam pola Braille. 
Dengan menggunakan teknologi Shape Memory Alloy, berdasar pada konsep bahwa logam berubah sesuai bentuk aslinya. Misalnya usai disentuh atau diubah bentuk, logam akan kembali ke bentuk asalnya. Dengan teknologi ini, layar memiliki pola jaring titik-titik yang bisa berubah sesuai kebutuhan. Pola jaring titik-titik ini yang menampilkan huruf Braille, yang menampilkan karakter atau huruf.

Isolasi Era Digital Harus Dihapuskan

Labels: ,

Kalau saya ajukan pertanyaan seperti ini, siapa yang tidak mengenal internet dan teknologi ? Saya yakin hampir semua orang mengenalnya. Apalagi di era digital saat ini, internet dan teknologi seolah sudah menjadi kebutuhan pokok. Apalagi dengan munculnya gadget canggih seperti smartphone yang semakin mempermudah seseorang untuk mengakses suatu layanan internet.  Dan dampaknya adalah kita semua terjangkit isolasi digital.
"Apa Isolasi Digital itu?"
Isolasi digital adalah seseorang yang telah sangat ketergantungan dengan alat-alat teknologi dan komunikasi modern seperti handphone, smartphone, tablet, notebook, netbook, dan semua yang berkaitan dengan internet. Dan hampir semua penduduk di Indonesia, terlebih kalangan remaja telah terkena isolasi digital ini. Bagaimana tidak, bayangkan saja dalam satu hari kita tanpa menggenggam handphone, serasa taman tanpa bunga, bukan ?
"Bagaimana Isolasi Digital Muncul?"
Isolasi digital muncul pada diri seseorang berawal dari kebiasaan menggunakan smartphone, kemudian mencoba coba untuk membuka situs internet, karena hal itu dilakukan setiap hari, akhirnya mereka merasa kecanduan dan beranggapan bahwa hidup mereka tidak bisa dipisahkan oleh gadget dan internet. Isolasi digital merupakan salah satu dampak negatif dari penggunaan internet dan jejaring sosial. Dan kebiasaan kecanduan internet atau sosial media ini harus dihilangkan

Hati – Hati, Berjejaring Sosial Dapat Merubah Perilaku Anda

Labels: ,



Pada zaman era digital seperti sekarang, semuanya bergantung kepada teknologi, salah satu hasil dari teknologi adalah internet, yang mengandung banyak situs di dalamnya termasuk situs jejaring sosial. Manusia sebagai makhluk sosial tentu sangat membutuhkan adanya media jejaring sosial ini agar memudahkan mereka untuk berinteraksi dengan mudah dan tanpa jarak yang menghalangi. Salah satu jejaring sosial tersebut adalah Facebook, Twitter, BBM, dan yang terbaru adalah Line.

 Jejaring sosial ini ternyata memberikan dampak yang besar bagi kelakuan penggunanya, entah itu dampak positif  maupun dampak yang negatif. Tergantung bagaimana kita menggunakan porsi jejaring sosial tersebut. Apakah kita menjadikan jejaring sosial sebagai kebutuhan utama, atau hanya sekedar kebutuhan pelengkap ? Dan yang paling banyak merasakan dampaknya tersebut adalah kalangan remaja.


Kita menggunakan jejaring sosial karena kita hanya berfikir bahwa jejaring sosial hanya mendatangkan dampak positif. Namun secara tidak langsung, dampak jejaring sosial tersebut telah merubah tatanan dan pola perilaku kita. Jadi, alangkah bijaknya jika kita juga mengetahui dampak negatif yang ditimbulkan dari jejaring sosial.

Pernahkah kita membandingkan antara kita yang dulu sebelum mengenal dunia jejaring sosial, dan setelah mengenal jejaring sosial ? Tentu akan terdapat banyak perbedaan yang itu semuanya sebenarnya telah menggangu mental kita. Lalu, pernahkah juga kita bertanya pada diri kita, lebih baik mana perilaku kita yang dulu dengan yang sekarang ?

Simbiosis Mutualisme (Manusia, & Gadget)

Labels: ,

Mungkin kita semua sadar, bahwa disekeliling kita saat ini sedang dipenuhi dengan dunia gadget dan internet. Semua ini merupakan salah satu dampak dari berkembangnya era digital di kehidupan kita. Keberadaan antara internet dan gadget tidak dapat dipisahkan lagi dengan kehidupan manusia. Lebih baik tidak  makan sehari daripada harus tanpa internet. Hidup tanpa gadget bagaikan bumi yang tanpa oksigen, sengsara dan akhirnya akan mati.

Seolah kini manusia menjalin hubungan saling menguntunkan (mutualisme) dengan gadget. Kemanapun manusia pergi, genggaman tangannya tak dapat dipisahkan dari smartphone. Banyak hal yang mereka kerjakan dengan smartphone dan akses internetnya. Mulai dari membaca berita online, bersosial media, sampai berbisnis online. Internet dan gadget dapat menjadikan dunia seolah olah ada dalam genggaman lima jari. Menjadikan jarak yang begitu jauh terasa dekat, dan dapat mengetahui informasi dari belahan dunia dalam waktu kedipan mata.


Dulu, kita bersosialisasi dengan manusia hanya bisa dilakukan dengan bertemu langsung, tentunya akan terbatas dengan jarak dan waktu. Namun, saat ini dunia gadget telah menyediakan layanan bersosialisasi dengan mudah dan tanpa halangan waktu maupun jarak. Salah satunya adalah dengan adanya BBM, facebook, line, we chat, twitter, dll. Dan dari sinilah terbukti bahwa gadget telah merubah tatanan budaya manusia.

Dari berbagai fitur gadget tersebutlah yang membuat manusia tergiur untuk mewajibkan dirinya memiliki gadget yang salah satunya adalah smartphone. Tentu ini membuat manusia ketergantungan terhadap gadget, begitu juga sebenarnya gadget sangat membutuhkan manusia, karena tanpa manusia mungkin gadget tidak pernah mengalami prouksi, sehingga dikatakan hubungan mereka adalah simbiosis mutualisme. Manfaat lain hadirnya gadget dan internet di era digital ini adalah mereka dapat berinterkasi dengan orang orang di seluruh belahan dunia dengan waktu yang sangat cepat.

Namun sangat disayangkan, bahwa kebanyakan orang orang menggunkan gadget bukan pada fungsinya, melainkan hanya menjadikan sebagai ajang pamer untuk menunjang hidupnya di zaman modern ini. Hanya menggunakan gadget sebagai eksistensinya kepada orang lain. Dan akibatnya adalah mereka menggantikan gadget sebagai kebutuhan primer, bukan lagi tersier. 

Yang perlu diketahui adalah, gadget diciptakan bukan untuk mengendalikan hidup manusia, melainkan membantu segala urusan manusia agar lebih mudah. Jangan sampai kita diperbudak oleh gadget dan selalu bergantung terhadap keberadannya. Alangkah bijaknya kita menggunakan fungsi gadget sebagaimana mestinya, agar hubungan simbiosis mutualisme ini terjalin dengan benar dan tidak ada yang dirugikan diantaranya. 

 

Agar benar menjadikan manusia dan gadget sebagai simbiosis mutualisme, kita seagai pengguna harus dapat mengontrol penggunaannya. Dan jangan menjadikan penggunaan gadget sebagai kebutuhan primer. Jadilah pengguna gadget yang bijak, yakni dapat mengatur porsi kapan dan dimana kita menggunakannya.